Ardiansyah Septian
Jakarta - Curhat Presiden SBY soal kerbau yang ikut demo dalam aksi memperingati 100 hari SBY adalah suatu keharusan. Sebab, politisi, akademisi, pendidik yang harusnya mengingatkan cara-cara bermartabat dalam menyampaikan aspirasi membiarkan praktek tak beretika tersebut.

"Justru mestinya DPR yang mengkritisi, DPR mestinya malu ada demo seperti itu. Tapi ternyata pendidik, budayawan, akademisi, tokoh masyarakat diam saja. Padahal itu sangat tidak etis. Di sinilah Pak SBY muncul sebagai kepala negara dan pemimpin bangsa mengambil tanggung jawab mengingatkan itu," kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Ahmad Mubarok.

Menurut Mubarok, demokrasi akan maju kalau dibangun atas dasar saling menghormati dan menghargai. Sebaliknya demokrasi hanya akan melahirkan anarki jika tidak dibungkus dalam koridor etika yang disepakati bersama.

"Ini tanda masyarakat yang sakit jika membiarkan demo seperti itu. Sebagai seorang demokrat, SBY perlu mengingatkan, karena yang lain diam," belanya.

Mubarok yang merupakan guru besar psikologi Islam di UIN Jakarta menilai 3 sistem dalam kehidupan bermasyarakat harus berjalan beriringan.

"Sangat bahaya jika 3 pilar budaya bermartabat tidak dijalankan. 3 Pilar itu adalah menghormati orang tua, guru dan pemimpin. Melecehkan salah satu, berarti melecehkan semua," pungkasnya.
0 Responses

Posting Komentar